Langsung ke konten utama

Kata Mereka tentang Klinik Menulis

Testimoni

Tiada dosa yang paling indah selain dikejar deadline jadwal posting di Klinik Menulis. Itu luar biasa menarik. Berusaha menyempatkan waktu ikut diskusi pada setiap karya yang di-posting. Berkenalan dengan kawan-kawan baru, semoga saja tidak ada niatan lain seperti berkenalan dengan jodoh baru. Hehe. Klinik Menulis adalah warna baru dalam hidupku selepas aku lulus dari bangku kuliah. Rutinitas kerja yang begitu menjenuhkan jangan sampai membuatku menjadi robot bernyawa. Klinik Menulis adalah nutrisi jiwaku dengan warna-warninya. Aksara yang kaueja itu adalah luapan kegelisahan hati dan pemikiran. Maka bacalah pula dengan hati dan pikiran agar kau mampu menulis dengan rasa tanpa paksaan. (Yasimini)

Aku percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Setiap kejadian, seluruh keadaan sudah ada tulisannya. Termasuk hobiku menulis yang tidak pernah aku inginkan. Tiba-tiba saja sebab itu ada. Dan dari sebab itu terus berkelanjutan hingga sekarang. Dan kini, di sinilah aku, bersua kawan-kawan baru yang diberi hobi sama denganku oleh Yang Maha Memiliki Cerita. Juga tiba-tiba saja. Apakah itu kebetulan ketika seorang kawan mengajakku bergabung di Klinik Menulis ini? Aku bersyukur dipertemukan dengan kawan-kawan hebat yang telah menggeluti dunia literasi lebih lama dariku. Aku banyak belajar dari mereka, tentang diksi dalam cerita, tentang manipulasi kata-kata. Khususon kepada sohibul bait, Kang Encep Abdullah, yang telah dengan senantiasa mendampingi perjalanan bahkan ketika kami (aku) ogah-ogahan. Benarlah nasihat berkumpul dengan mereka yang sejalan akan menguatkan. Tentulah yang namanya pasang surut pasti ada. Sehingga sekian waktu menjauhi yang seharusnya semakin didekati. Tapi berhenti berkarya bukanlah cara mereka yang diberi kesempatan untuk bercita-cita. Bagaimanapun, kisah di esok pagi harus ada yang menuliskan agar bisa dirasakan indahnya esok dan esoknya lagi. (M. Alfi H.)

Selama saya bergabung di grup, saya banyak belajar meskipun tak saling kenal satu sama lainnya. Tinggal pribadi saya saja yang masih sulit untuk memulai menulis. Sudah sering sekali Pak Encep ngoceh kepada saya. Namun, memag saya yang harus berbenah diri untuk kembali menulis. Sesuai dengan naman grupnya, Klinik Menulis. Tetaplah berkarya. Sebab, kesuksesan itu melalui proses. Dan, semoga kita bisa saling sapa di suatu saat nanti. (Rofif Syuja' Mu'tasyim)

Bergabung dan menjadi salah satu anggota di Klinik Menulis adalah sebuah anugerah untuk saya yang sering kali terjebak problematis dalam hal tulis-menulis, terutama berkenaan dengan tingkat motivasi dan kesadaran yang rendah untuk bisa konsisten dalam berkarya. Banyak hal baru yang mungkin tidak bisa saya dapatkan di tempat lain, yang tentunya sangat memengaruhi perjalanan literasi dalam hidup saya. Pun teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, mereka adalah orang-orang yang luar biasa, yang sedikit-banyaknya memberikan cambukan semangat kepada saya untuk bisa mengejar capaian dari mereka. Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman, khususnya guru saya, yaitu Pak Encep Abdullah. Semoga dengan adanya wadah ini, kita bisa menghargai keberadaan diri dengan terus berkarya. (Faridatun Hasanah)

Mungkin saya beruntung bisa kenal dengan Kang Encep, dan dari sana saya bisa masuk ke dalam komunitas WhatsApp Klinik Menulis #1. Alhamdulillah, Allah swt. memberikan sebuah jembatan bagi saya yang lagi haus akan sebuah ilmu. Dengan adanya Klinik Menulis, haus saya sedikit terobati dengan ilmu yang diberikan dan motivasi agar lebih baik lagi dan tidak cepat menyerah. Semoga Klinik Menulis tidak hanya bertemu di dunia maya WA. tetapi juga ke depannya bisa bertemu di dunia nyata dan bisa menjalin silaturahmi lebih erat lagi. (Asep Dani)

Saya bersyukur karena diizinkan bergabung dengan Klinik Menulis karena di komunitas ini saya dibimbing oleh guru yang kompeten dan peduli serta kenal dengan teman-teman yang luar biasa. Meski terkadang malu karena lalai dengan tugas dan kalah rajin dalam berkarya, tapi saya yakin bahwa tetap berada di Klinik Menulis baik untuk stabilitas motivasi menulis saya. Terima kasih kakak guru dan teman-teman. Semoga kita semua semakin tekun menulis hal-hal yang bermanfaat bagi sesama. Amin. (Siti Bagja Muawanah)

Sungguh, awalnya hanya mencoba-coba untuk bergabung di grup WA Klinik Menulis. Sebelumnya tidak pernah tebersit untuk menyukai dunia tulisan. Namun, kini malah menjadi candu. Syahwat menulis ini semakin kuat ketika saya bertemu teman- teman yang gigih dan tak pantang arah untuk belajar dan berbagi dalam menyelam di dunia tulisan. Lebih asyiknya lagi, kita selalu diberi kesempatan untuk saling berkomentar, saran, dan kritik terhadap tulisan yang diunggah ke grup. Dan lebih kerennya lagi, walau tidak bertatap muka, ternyata cukup efektif dan bermanfaat dalam mengobati pikiran yang 'sakit' akibat gejala susah menulis. Ditambah ada Pak Encep Abdullah yang setia menjadi tutor-- sekaligus pendiri Klinik Menulis-- dan tidak pernah lelah untuk memberi kepercayaan kepada kami bahwa menulis itu adalah hak atas segala keresahan dari pikiranmu, jangan hiraukan salah dan benar, yang terpenting mau giat baca, mau belajar, dan mulailah menulis. (M. Syahril Romdhon)

Bersyukur banget bisa dapat kuoata peserta untuk nongkrong sambil belajar di grup ini meskipun dari awal gabung sampai saat ini masih saja jadi newbie. Soal bantai-membantai, karya suhu Encep dan kawan-kawan yang lain, jangan ditanya, mungkin tulisan saya yang paling banyak dibantai karena di bawah rata-rata. Tapi, berkat masukan dan kritikan dari mereka, saya jadi semakin tahu tentang pentingnya memperbaiki tulisan agar pesan dan keindahannya mudah sampai kepada pembaca. Harapan saya mudah-mudahan benih semangat berkarya teman-teman klinik menulis semakin tumbuh subur. Semoga bisa kopdar sekalian jalan-jalan ke rumah Joe di Papua. (Dwi Zayanti)

Alhamdulillah selama belajar bersama di Klinik Menulis asuhan Encep Abdullah, pengetahuan saya tentang dunia menulis, terutama puisi dan cerpen makin bertambah. Ruang belajar itu juga menampung kawan-kawan yang sangat luar biasa. Semoga Klinik Menulis tidak padam oleh apa pun. Semoga akan ada generasi selanjutnya dan selanjutnya yang meneruskan tekad dan semangat kami. Harapan terbesar saya mudah-mudahan kita semua dapat berkumpul dalam dunia nyata. (Ahmad Irfan Fauzan)

Menulis baginya adalah sebuah napas, di dalamnya terkandung proses dan sirkulasi untuk terus belajar dan semakin baik dari ke hari. Untuk itu, pertemuan dengan komunitas Klinik Menulis asuhan Encep Abdullah merupakan sebuah anugerah yang tidak terkira. Dari kesempatan tersebut lah lelaki yang kini berdomisili di Bandung ini mendapat pembelajaran untuk mengasah karyanya agar semakin tajam dan berkualitas. (M. Ginanjar Eka Arli)

Mengenal Klinik Menulis adalah anugerah bagi saya. Dari klinik ini, saya bisa semangat lagi menulis dan mengirimkan karya (terutama puisi). Di klinik ini peserta lebih banyak praktik dan Encep Abdullah sebagai mentor sangat sabar membimbing.  Semoga setelah ini saya bisa lebih produktif lagi. Amin. (Aris Rahman Yusuf)

Dari Klinik Menulis aku mengenal seni menulis dan adab menulis. Di bawah Dokter Encep semua sakit para penulis dari yang ringan sampai yang berat diobati habis-habisan. Semoga dengan adanya projek ini, dunia literasi semakin berkembang dan meningkat khususnya untuk penulis-penulis muda. Semoga bisa lebih baik lagi tulisan tulisanku. Terima kasih Dokter Encep. (Syamiel Dediyev)

Pamflet bertuliskan Klinik Menulis #5 telah dibuka membuat pikiran saya saat itu sedikit riuh, antara ikut atau tidak. Namun, Kang Encep Abdullah, sebagai mentor sekaligus inisiator dari Klinik Menulis #5 menguatkan hati saya dan menyuruh saya untuk coba mengikuti grup tersebut. Setelah saya ikuti Klinik menulis ini, banyak sekali hikmah yang bisa saya dapatkan. Dimulai dari kegemaran saya untuk membaca buku mengalami perubahan. Yang semula tidak suka membaca buku, sekarang semangat membaca buku tumbuh sedikit demi sedikit. Dan ternyata, setelah saya ikut Klinik Menulis #5, saya jadi tahu kemampuan menulis saya sudah sampai level apa. Bahkan, sampai Kang Encep bilang kalau saya sudah punya bakat menulis sebelum ikut ke grup ini. Entah, benar atau tidaknya. Atau jangan-jangan Kang Encep hanya mengompori saya saja agar terus semangat mengikuti grup ini sampai selesai. Perasaan senang melanda hati, saya diajari banyak hal dalam hal kepenulisan, terutama cerpen. Karena, beberapa peserta dari belahan dunia lain ikut meramaikan dengan jenis karya yang berbeda-beda. Ada yang belajar membuat puisi, esai, dan cerpen seperti saya. Secara tidak langsung, saya juga belajar tentang bagaimana membuat puisi dan esai. Tidak ada yang membikin suasana grup menjadi kacau. Hanya tutur kalimat dari Kang Encep dan teman-teman lainnya untuk memperbaiki penulisan agar tersusun indah dan rapi. Kalimat-kalimat itu adalah sebagai pemantik semangat agar sampai ‘purna’ masa tugas di dalam Klinik Menulis #5 ini. Saya ucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat, terkhusus untuk Kang Encep Abdullah selaku mentor. Semoga semua ilmu yang ditularkan bermanfaat untuk semua. Amin. (Fauzan Murtadho)

Saya sudah lama jatuh cinta dengan Klinik Menulis asuhan kang Encep Abdullah, waktu itu saya beranikan diri untuk melamarnya, namun saya ditolak karena dianggap sudah terlalu tua. Padahal saya masih muda, anak juga baru punya dua. Ketika kang Encep membuka Klinik Menulis #5, saya mencoba kembali melamarnya, tidak disangka saya diterima. Usut demi usut, orang-orang muda yang dulu pernah belajar di Klinik Menulis, yang Kang Encep harapkan bisa serius belajar, ternyata banyak yang mengecewakan dengan berbagai alasan. Mungkin pengalaman ini yang membuat Kang Encep berubah pikiran mau menerima saya belajar di Klinik Menulis. Biar tua asal setia. Gubrak! Motivasi saya ikut belajar menulis awalnya hanya untuk menemukan mementum semangat menulis saya yang sudah lama hilang. Karena sebelum ikut di Klinik Menulis pun saya sudah aktif menulis bahkan sudah membuat buku. Syukur alhamdulillah, niat saya tercapai, bahkan bukan hanya semangat saya yang kembali, di Klinik Menulis ini saya mendapatkan teman-teman sesama peserta Klinik Menulis #5 yang luar biasa. Lope buat kalian semua anggota Klinik Menulis #5. Di dalam grup WA Klinik Menulis #5, kami saling support, saling menguatkan. Meski tak jarang kang Encep menilai tulisan kami dengan penilaian yang kejam, seperti tulisannya jelek, kamu pemalas dan yang semacamnya. Kami tidak tersinggung justru kata-kata itu menjadi cambuk buat kami untuk terus belajar menulis. Hasilnya, enam tulisan saya hasil belajar bareng di Klinik Menulis #5 bisa masuk di koran harian Kabar Banten. Alhamdulillah. (Najullah)

Ketika awal mau ikut di Klinik Menulis, aku merasa setengah hati dengan kesibukanku, tetapi dengan dorongan kuat aku masuk ke komunitas ini setelah melihat status Kang Encep "dibuka Klinik Menulis Angkatan 5". Dan bergabung aku mengikuti Zoom dan berkomunikasi dengan kehawatiran beberapa kendala dengan aktivitas yang saya telah tekuni. Motivasi Kang Encep semangat lanjut tanpa melihat alasan-alasan yang ada di sekeliling kehidupanku. Akhirnya aku bergabung dan mendapatkan ilmu literasi yang masih dasar dengan mendapatkan kata motivasi "tulislah apa yang ada di dalam otak kita" itu motivasiku bisa lanjut di klinik ini walau masih banyak PR yang harus aku bereskan. Terima kasih Kang Encep dengan motivasinya dan ilmu aturan-aturan penulisan yang baik yang aku dapatkan di Klinik Menulis Angkatan 5 ini, semoga berhasil menyelesaikannya. (Vela)

Saya sudah hampir dua tahun sekontak dengan Pak Encep Abdullah, beliau seorang sastrawan asal Banten. Setiap kali ia mengunggah mengenai buku, saya hanya bisa menonton saja. Pada suatu hari, ia membuka program Klinik Menulis. Masih sama, saya hanya menjadi penonton story-nya. Tidak membuat hati saya tergetar untuk mengikuti. Namun, ia memosting lagi program Klinik Menulis itu. Saya rasa ia serius untuk membagikan ilmunya secara cuma-cuma. Dari kekonsistenan Pak Encep dalam menulis itulah membuat jiwa literasi baca saya merasa dibangunkan. Lagian, ilmu itu mahal. Masa sih, dikasih yang gratis saja gak mau. Semoga Pak Encep dan keluarga selalu ada dalam lindungan-Nya. (Mela Sri Ayuni)

Dengan Klinik Menulis, saya belajar apa artinya kesetiaan. Saya kudu siap dan sedia terpaksa menulis sesuai aturan yang berlaku, sehingga kedisiplinan menulis tertanam dalam mindset. Pola pikir saya terkait kepenulisan berangsur jernih. Yang awalnya saya menulis sebab keterpaksaan dan sebab ekspektasi-ekspektasi yang muluk-muluk itu, sekarang enggak lagi. Klinik Menulis memaksa saya untuk berpikir realistis bahwa menulis ya intinya cuman menulis duluan, urusan bagaimana jadinya berikutnya ya bodo amat. (Uwais Korni)

Saya sepertinya terdiagnosis penyakit serba tidak tahu. Saya tidak tahu pasti saya mampu menulis atau tidak karena yah menuruti saya, saya tidak bisa. Jangankan menulis cerpen, baca bukunya saja harus ekstra tenaga dan waktu, belum lagi drama menahan ngantuk yang berujung tidur. Iya, bagi saya membaca buku itu sama dengan mengundang mata untuk tidur. Menyebalkan! Akhirnya saya berani saja mencoba mendaftar dan bergabung di Klinik Menulis #6. Level insecure saya naik sampai ke level puncak, untung saja kelas online. Saya mencoba menutup wajah yang polos dan tidak tahu apa-apa ini. Saya tulis saja seperti saya menulis diary, malu sebenarnya tapi saya seakan mendapatkan energi baru. Saya semakin percaya diri menjadi diri saya sendiri yang selama ini saya tidak sadari dan saya tidak benar-benar mengenalnya bahkan mungkin sampai sekarang. Saya merasa mabuk dengan aktivitas menulis dan membaca setelah bergabung di grup ini. Benar-benar membuat saya fokus mengenal diri sendiri dan tidak takut dengan kesendirian, awalnya karena memang menulis itu butuh waktu ekstra sehingga saya harus meluangkan waktu untuk saya sendiri. Menurut saya menulis itu bentuk terapi memperbaiki mental saya dan meluapkan kerucekan pikiran saya yang ternyata benar-benar absurd. Terima kasih saya ucapkan untuk guru saya Kang Encep Abdullah sing paling kocak, eh sastrawan maksudnya. Dan terima kasih untuk teman-teman yang ada di grup Klinik Menulis #6. Kalian luar biasa. (Siti Maria Ulfah)

Saya bersyukur bisa melihat cuplikan reels viral Kang Encep Abdulah di Instagram. Beliau membahas mengenai proses masuknya ilmu ke dalam diri manusia. Mulai dari situ, saya jatuh hati dan mengikuti media sosial Kang Encep Abdulah, dan tidak lama setelah itu saya melihat berita mengenai kelas menulis dibuka untuk umum, bahkan gratis. Tidak berpikir panjang, saya mencoba mendaftarkan diri untuk bisa menjadi peserta pada Klinik Menulis Angkatan #6 tahun 2024. Dalam proses kehidupan dan perjalanan yang saya lalui, banyak sekali momen dan informasi menarik untuk direkam. Saya sangat menyadari bahwa investasi bukan hanya berbentuk benda. Investasi untuk mampu menulis, merupakan harta karun yang harus di perjuangkan. Saya sangat bersyukur bisa diterima menjadi pasien di kelas menulis angkatan Kang Encep dan diobati bagaimana mengenal dunia literasi, proses kreatif, dan belajar konsisten sebagai kunci dari seorang penulis. Klinik Menulis yang dibangun Kang Encep, bagi saya ini bukan hanya ruang klinik. Ini adalah rumah keluarga untuk kita yang terdaftar sebagai pasiennya. (Heru Anwari)

Selama di klinik menulis, saya merasa telah  menemukan tempat yang pas untuk meningkatkan skill menulis saya. Tidak diajari teori ini itu tapi langsung praktiknya. Dan selama berada di sini, saya merasa tulisan saya dihargai, dinilai sehingga saya tahu kelemahan dari tulisan saya sendiri. Sungguh mengasyikan berada di klinik menulis ini. Selain melatih skill menulis, saya bisa bertemu dengan teman-teman sejawat yang keren-keren dan banyak belajar dari mereka. Bahwa menjadi penulis itu harus siap mental, jiwa dan raga. Senang bisa berada di sini, semoga kedepannya Klinik menulis banyak dikenal. Aamiin. (Aina Zulfatun Nisa) 

Alhamdulillah dengan masuk kelas menulis, keinginan menulis mulai muncul kembali setelah bertahun-tahun tidak pernah menulis lagi dan sibuk dengan dunia yang berbeda. Di klinik ini, saya banyak belajar tentang dunia baru dalam menulis. Banyak pengalaman dengan bertemu kawan-kawan hebat dalam bidang menulis. Jadwal menulis yang harus ditepati menjadikan motivasi untuk terus menggerakkan pena. Semoga klinik menulis lebih banyak menyembuhkan para penulis yang sudah jauh pada penanya. Terimakasih klinik menulis. (Gulmania Nagiri) 

Saya sangat bersyukur dapat mengikuti kelas menulis ini, karena banyak pembelajaran yang saya dapatkan. Komentar membangun dari kang Encep dan juga teman-teman seperjuangan sangat membantu saya dalam memperbaiki karya tulis yang saya buat, dan insyaallah kedepannya semoga saya bisa terus berkembang memperbaiki kwalitas tulisan saya. Terimakasih untuk kang Encep sudah mewadahi komunitas ini, terimakasih juga untuk teman-teman seperjuangan. Semoga klinik menulis ini terus bermanfaat untuk banyak orang. (Ummu Mafruhah)

Gabung di klinik menulis ini menyadarkan saya bahwa menulis itu tidak 'semelelahkan' itu. Prakteknya menulis itu ya mengalir aja, menuliskan isi hati dan kepala meski agak susah mencari ide tulisannya. Terimakasih kang Encep sudah memberi wadah dan lahan untuk kami terus belajar tentang sebuah tulisan. Semoga Klinik Menulis ini semakin dikenal kalangan luas. (Nia Kurniati)

Sejatinya, belajar adalah proses seumur hidup. Apapun itu, termasuk belajar menulis. Walaupun aku pernah mengenyam mata kuliah “Menulis 1” dan “Menulis 2” di bangku kuliah, tanpa “paksaan” untuk terus berkarya, tulisan-tulisan itu hanya akan berserakan tanpa tahu arah pulang. Bagiku, Klinik Menulis adalah rumah. Bukan sekadar wadah bagi orang-orang dengan hobi yang sama, tapi tempat yang dihuni banyak karakter dengan isi kepala yang berbeda-beda. Mengikuti Klinik Menulis #7, apalagi didampingi kakak mentor waktu kuliah dulu, rasanya seru banget. Katanya kelas puisi ini sempat mati suri. Tapi tenang saja—tunggulah, puisi-puisi karya angkatan ini akan segera bertebaran di muka bumi. Terus semangat berkarya, kawan. Jangan pernah menunda dengan berbagai alasan karena sejatinya, tulisan akan tetap abadi meski penulisnya telah pergi. (Herlina Pratiwi)

Saya merasakan kesenangan di klinik menulis ini, apalagi ketika bertemu peserta grup esai. Walau jauh banget umurnya, namun saya banyak mendapat pengalaman dari mereka-mereka. Apalagi mereka membuat tulisan begitu jujur dan apa adanya. Masalah sekolah dibahas sedetail-detailnya, sampai nasib guru yang terus dipertanyakan oleh saya sendiri. Detail-detail yang dibuat oleh mereka menumbuhkan pengetahuan saya. Selain itu, saya salut pada proses kreatif mereka yang membutuhkan kekuatan besar untuk menuangkan tulisan di tengah waktu yang padat. Ini yang membuat saya terinspirasi dari mereka. Ada yang menulis dari subuh, salat tahajud dulu untuk mendapatkan sebuah cahaya mungkin (?). Mereka-mereka juga sering kali menanggapi esai-esai saya, dan itu yang paling membuat saya terkesan. Saya yang masih muda terus dibimbing lewat komentar dan tulisan-tulisan mereka. Dan memang, esai ini merupakan tempat curhat dengan elegan. Sebuah gejolak batin yang dikeluarkan oleh kata-kata yang terus tersusun sampai menjadi tulisan. Mungkin segitu dulu, nanti tulisan panjangnya, dikarenakan saya masih di Jogja sedang melakukan kegiatan kuliah kerja lapangan (walau lebih tepatnya kegiatan hiburan berkedok pendidikan, atau bebas aja hehe). Satu lagi, A Encep sebagai mentor saya, saya begitu bahagia banget dibimbing sepanjang jalan kepenulisan saya ini di klinik menulis. Dan beliau menjadi sumber inspirasi dari kebingungan saya atas apa yang dimaksud dengan esai. Setelah selesai klinik menulis, saya juga masih bingung. Mungkin benar kata A Encep, untuk belajar lagi di luar kelas ini. Sungguh, saya semakin semangat untuk berjalan entah ke mana. Pulang mungkin? Ah, di kelas klinik juga bingung soal pulang itu. (Rafif Abbas) 

Menulis itu bukan hanya tren sekali pakai, harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Bagi saya, satu tulisan yang disukai oleh pembaca itu nomor kesekian, karena yang terpenting adalah bagaimana tulisan itu terus lahir dan dibaca oleh orang lain. Melalui Klinik Menulis, para pasiennya bukan hanya dituntut menulis yang benar dan bagus, tetapi bagaimana tulisan itu terus ada dan dibaca. Saya merasa tertantang setiap minggunya untuk menulis cerpen yang lebih keren dari Minggu sebelumnya, karena di klinik menulis, setiap cerpen yang ditulis akan dikomentari dengan kritik yang membangun, sehingga saya rasa cerpen saya selalu berkembang tiap minggunya. (Fajarmana)

Sejauh ini, kelas menulis ini yg bisa membuat saya terpacu utk "harus" membuat tulisan secara berkelanjutan. Awalnya terasa dipaksa tapi akhirnya jadi terbiasa. Meski harus melalui berbagai iklan, bahkan sampai membuat kepala "rengad".  Saya kira hanya persoalan mengolah nilai rapot saja yg membuat kepala rengad, ternyata melahirkan sebuah tulisan (terutama esai) saja memiliki kedudukan tahta yg sama — harus benar-benar dipikirkan. Tidak boleh asal. Selain itu, saya bisa membaca tulisan-tulisan teman di kelas ini secara gratis, bahkan bisa sampai berguru kepada teman-teman. Dulu saya cupu soal "keberanian" untuk mengeluarkan apa yg ada di hati dan pikiran.  Bahkan sampai di umur sekarang ini, saya baru kali ini "berani" menulis. Ternyata setelah proses menulis selesai, muncul rasa "lega" yang tidak bisa diungkapkan. Terima kasih Kang Encep yang sudah secara cuma-cuma memberikan saya kesempatan untuk belajar di sini. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan Kang Encep. (Restu Andika P.)

Berkat Klinik Menulis, saya jadi pasien yang lambat laun sembuh dari penyakit akut seorang penulis: rasa malas. Saya berharap Klinik Menulis ini ke depannya mampu melahirkan penulis-penulis yang dapat mewarnai literasi Indonesia. (Rosul Jaya Raya)


Kembali ke BERANDA 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peserta Klinik Menulis Angkatan #7

  Untuk membuka kembali kelas menulis daring, barangkali saya-- Encep Abdullah , selaku penggagas dan mentor ruang ini--perlu menghela napas panjang, bahkan perlu bersemadi dulu di ruang hening. Tentu, kegiatan positif macam ini akan cukup menguras energi, waktu, dan pikiran karena harus mendampingi rekan-rekan untuk benar-benar menjadi penulis. Saya tidak hanya menerima kawan-kawan yang masih pemula, tetapi juga kawan-kawan yang barangkali sudah terlatih menulis tapi masih bingung harus bagaimana lagi, bahkan barangkali ada juga penulis yang sudah hebat tapi merasa belum istikamah dan konsisten untuk terus menulis. Oleh sebab itu, Klinik Menulis hadir untuk rekan sekalian. Saya ucapkan selamat kepada rekan-rekan yang sudah bergabung dan menjadi bagian dari ruang belajar bersama ini.  Berikut nama-nama peserta Klinik Menulis #7:   Kategori Puisi   Budi Santoso , dilahirkan di provinsi Lampung pada tahun 1999. No...

Referensi Bacaan

SEBELUM MULAI MENULIS, WAJIB BACA REFERENSI BERIKUT!  1. Referensi empat buku alumni Klinik Menulis (puisi, cerpen, esai).  https://drive.google.com/drive/folders/19feKHK0dh1Lakndd2YT9X80l1FABBLwg?usp=sharing 2. Referensi buku karya pilihan NGEWIYAK.com (puisi, cerpen, esai) https://drive.google.com/file/d/1zxRmB4-6g2H9JjjASGFSAd9ZlXnAEk9y/view?usp=drive_link dan https://drive.google.com/file/d/1YftHvtNLXa_w5Ju32KHE293N25WueWuY/view?usp=drive_link 3. Referensi buku karya Encep Abdullah (puisi, cerpen, esai) https://drive.google.com/drive/folders/1nJCxHUZ_aoV51e75D3CkgfM3xzOf9xRw?usp=sharing 4. Materi singkat menulis puisi, cerpen, esai Encep Abdullah https://drive.google.com/drive/folders/1ls_7N-WRAQ360aAEamIa-2cfvDYbYWFM?usp=sharing 5. Daftar media online yang menerima tulisan puisi, cerpen, esai https://drive.google.com/file/d/17hQdR6vFz8_JsnQy00BbftDRXyQzYlJW/view?usp=sharing Referensi Lain   Referensi Bacaan Peserta Kelas Puisi   1.Puisi Chairil Anwar https://w...

Tentang Klinik Menulis

Tentang Klinik Menulis Klinik Menulis merupakan komunitas literasi (WA) yang didirikan oleh Encep Abdullah pada 3 Desember 2016. Sebab-musabab didirikan komunitas ini adalah permintaan banyak pihak di medsos kepada Encep Abdullah. Akhirnya, Encep merenung dan memutuskan membuat grup menulis di WA. Maka, jadilah nama Klinik Menulis, terinspirasi dari grup sebelah, Klinik Bahasa.  Mulanya anggota Klinik Menulis terdiri atas anak muda berusia 17—25 tahun yang berasal dari berbagai daerah: NTB, Aceh, Papua, Cianjur, Bogor, Kalimantan, Banten, dan sebagainya. Memilih peserta anak muda karena mereka tidak sibuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan biar pekerjaan menulis bisa fokus. Lalu, stigma itu keliru. Ternyata, pelajar dan mahasiswa juga sama-sama sibuk layaknya mereka yang sudah berkeluarga. Kendala mereka sangat klasik: lupa, malas, tidak konsisten menulis. Klinik Menulis sudah mengarsipkan empat buku: Telolet, Puisi, dan  Kerikil Sepanjang Jalan (Angkatan #1, 2017), Nun dan...