Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Arsip Karya

Buku-Buku Karya Alumni Klinik Menulis

  Judul: Ziarah Penulis: Aris Rahman yusuf Penerbit: #Komentar Terbit: November 2024 Tebal: 40 hlm. Ukuran: 14 cm x 20 cm   ISBN: 978-623-5492-21-6 Genre: Puisi Masing-masing puisi Aris Rahman Yusuf mengangkat tema dan pendekatannya, menyuguhkan gambaran mendalam tentang pengalaman manusia. Dari pencarian kedamaian, kehangatan keluarga, hingga kekuatan cinta, semua terjalin dalam kata-kata yang indah dan penuh makna. Melalui karya-karya ini, penulis berhasil menggugah emosi pembaca, sekaligus menyentuh aspek universal yang melekat dalam kehidupan setiap individu.  Buku Aris Rahman Yusuf yang akan terbit dalam waktu dekat! Biodata Penulis Aris Rahman Yusuf  adalah penulis dan editor lepas. Dia suka menulis nonfiksi dan puisi. Buku puisinya yang sudah terbit, yaitu  Lelaki Hujan  dan  Ihwal Kematian Air Mata . Untuk mengenalnya bisa mengikuti IG-nya @aryus04. FB Aris . _______________________ Judul: Monolog Sayur dan Bumbu Seblak Penulis: Fauzan Mur...

Kurikulum Merdeka Tidak Menjadikan Siswa Bertakwa?

 Esai Najullah, S.Pd.I. (Dimuat di Kabar Banten, 5 September 2024) Salah seorang paman memberikan komentar di grup WA terhadap tulisan saya yang berjudul “Kurikulum Merdeka, Sudahkan Gurunya Merdeka?” yang dimuat di koran harian umum Kabar Banten , 16 Agustus 2024. “Kurikulum Merdeka tidak membuat siswa menjadi takwa”, begitulah komentar yang beliau sampaikan.  Meskipun saya sering mendengar selentingan negatif tentang Kurikulum Merdeka, saya tidak pernah menghiraukannya. Menurut saya lahirnya selentingan negatif itu karena didominasi perasaan apatis terhadap kurikulum yang diterapkan pada sistem pendidikan di Indonesia yang dianggap sering gonta-ganti. Saya sudah menjelaskan panjang lebar tentang masalah ini pada artikel tersebut di atas.  Tapi, tidak dengan komentar yang satu ini. Bagi saya ini sangat menarik untuk diulas. Alasanya bukan hanya karena yang memberikan komentar adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam yang sudah lebih dari 30 tahun mengajar di salah sat...

Mahasiswa dan Segala Keabsurdannya

Esai Mela Sri Ayuni (Dimuat di NGEWIYAK, 29 Agustus 2024) Mahasiswa merupakan seseorang yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Umumnya paling rendah berusia 19 tahun sampai tidak terbatas usia, ia berjalan seolah semua keilmuan miliknya (Febri Saefulloh dalam buku Mahasiswa Mencari Dirinya , 2021). Bebas menggunakan apa pun di lingkungan kampus, dianggap sudah dewasa. Pada tahun pertama, ia biasanya cukup disibukkan dengan banyaknya tugas yang harus dikumpulkan pada minggu yang bersamaan. Mengikuti organisasi (entah apa yang dicari, biasanya berhenti di tengah jalan), mencari referensi outfit , nongkrong untuk kopi darat, menyuarakan aksi, dan teman hati. Inilah  secuil dari kebiasaan mahasiswa masa kini.  Saya pun sebenarnya masih mahasiswa yang sedang mencari esensi dari mahasiswa itu sendiri. Saat ini saya sedang ada di fase semester akhir yang asyik. Tetapi selama bolak-balik kampus tidak banyak yang didapat, hanya satu, yaitu perubahan pola pikir. Memang ter...

Pesona Pondok Pesantren

 Esai Najullah (Dimuat di Kabar Banten , 29 Agustus 2024) Keberadaan lembaga pendidikan pondok pesantren di Indonesia tidak lepas dari pengaruh penyebaran agama Islam oleh wali songo yang sampai saat ini masih tetap dilestarikan. Dari masa ke masa, keberadaannya sangat vital sebagai sumber penyebaran syiar agama Islam. Seiring berjalannya waktu, bermunculan beraneka ragam corak pondok pesantren. Setidaknya ada tiga model pondok pesantren yang diklasifikasikan oleh Kementerian Agama, yaitu pondok pesantren modern, pondok pesantren salafi, dan pondok pesantren setengah salafi, setengah modern. Kontribusi pondok pesantren terhadap negeri ini tidak bisa dianggap enteng. Pada zaman penjajahan, para kiai memobilisasi santrinya untuk berjihad melawan penjajah sampai Indonesia merdeka. Maka tidak berlebihan jika dikatakan “Indonesia lahir karena ada pondok pesantren”. Hingga sampai saat ini pondok pesantren masih berkontribusi mengisi kemerdekaan. Alumni pondok pesantren banyak yang berkip...

Tentang Perempuan dan Saya

Esai Mela Sri Ayuni (Dimuat di NGEWIYAK, 22 Agustus 2024) Kalau berbicara tentang perempuan, saya yakin ini tidak akan pernah selesai. Perempuan itu unik, ia mempunyai pahamnya sendiri. Tidak bisa dipahami oleh semua orang. Sedikitnya hanya ada beberapa kepala saja yang mengertinya, itu pun harus melalui ilmu tarikat. Perempuan itu bisa jadi lebih rumit dari filsafat, lebih mistik dari tasawuf. Ia bisa bilang “Iya” padahal di hatinya berucap “Tidak”, pun sebaliknya, ia bisa berucap “Tidak” padahal hatinya “Iya “. Bahkan, seorang spiritualis Muslim rela menyisihkan waktu untuk mempelajari darah haid perempuan selama sembilan tahun. Itu baru darahnya, belum nadi, dan itu -nya. Simpelnya, orang bodoh menyebutnya, perempuan itu ribet! Perempuan bisa diartikan salah satu makhluk Tuhan yang paling menarik. Ia diciptakan ketika Adam sedang tertidur. Kehadiran perempuan mampu memberikan energi untuk peradaban dunia. Bahkan, saking berdampaknya, kalau ingin melihat kualitas suatu negara, bisa d...

Kurikulum Merdeka: Sudahkah Gurunya Merdeka?

Esai Najullah, S.Pd. I. (Dimuat di Kabar Banten , Jumat, 16 Agustus 2024) Pada tahun ajaran 2024/2025 pemerintah sudah mewajibkan seluruh sekolah menggunakan Kurikulum Merdeka (Kumer) melalui diterbitkannya Peraturan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi No. 12 tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Di laman Direktorat Sekolah Dasar yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dijelaskan bahwa Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam dengan konten yang lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Pengertian ini bagi saya tidak mudah untuk dipahami, saya harus berulang kali membacanya agar masuk ke dalam otak.  Pemerintah juga menyediakan Platform Merdeka Mengajar (PMM), yaitu satu platform khusus yang bisa dimanfaatkan oleh guru. Berisi banyak hal tent...

Sekolah Swasta, Jangan Mau Jual Murah!

Esai Najullah, S.Pd.I. (Tulisan ini dimuat di Kabar Banten , 7 Agustus 2024) Dalam dunia pendidikan, terdapat perbedaan yang mencolok antara sekolah swasta dengan sekolah negeri. Secara kasat mata perbedaan itu nampak jelas terlihat. Dari sisi jumlah murid, sekolah negeri mempunyai lebih banyak murid daripada sekolah swasta. Dari sisi sarana prasarana dan fasilitas, sekolah negeri pasti lebih unggul. Dari sisi tenaga pengajar, rata-rata guru sekolah negeri berstatus ASN, sementara guru sekolah swasta hanya honorer swasta yang kisaran digaji di bawah 500 ribu per bulan. Lantas bagaimana dari sisi kualitas? Jawabannya pasti bisa ditebak, tentu sekolah negeri. Meskipun demikian, tidak semua sekolah swasta seperti itu, ada juga sekolah swasta yang kualitasnya bagus, bahkan di beberapa daerah ada juga sekolah swasta yang mendominasi kualitasnya daripada sekolah negeri.  Rata-rata sekolah swasta yang ada, kondisinya sangat memprihatinkan. Jangankan untuk meningkatkan kualitas pendidikann...